Kecerdasan Buatan dalam Sektor Pertahanan Nasional

Shandy Pradana

Dalam dunia yang berubah dengan cepat ini, robotika dan kecerdasan buatan (AI) menjadi teknologi yang paling sering diadopsi ke berbagai sektor kehidupan manusia, mulai dari bidang sosial, ekonomi, sampai militer.

AI sendiri memang dapat melakukan pemrosesan informasi tingkat lanjut dan memiliki pengetahuan untuk meniru perilaku manusia. Bahkan, beberapa dari mereka dapat mengerjakan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh manusia

Sejak pertama kali dicetuskan pada tahun 1950-an, AI mulai memberikan hasil yang nyata dalam satu dekade terakhir ini, khususnya lewat pembelajaran mesin (machine learning) serta turut meningkatkan ketersediaan data dan daya komputasi. Sebagai dampak dari kemajuan ini, sekarang AI dapat menyelesaikan masalah yang sangat spesifik.

Ekosistem AI sendiri meliputi tenaga kerja digital yang terampil dan manajemen yang berpengetahuan, berkemampuan digital untuk menangkap, menangani, dan mengeksploitasi data, serta landasan teknis yang berlandaskan kepercayaan, keamanan, dan keandalan.

Hari ini, selain pihak swasta, beberapa pemimpin negara juga mulai menaruh pandangan dan memberikan investasi pada AI untuk memperkuat sistem pertahanan nasional mereka. Memang, AI dapat meningkatkan fitur penting dari sistem pertahanan di tingkat nasional karena kemampuan komputasi dan pengambilan keputusannya yang terintegrasi dengan baik.

Melansir dari laporan Thales Group, yang bekerja sama dengan Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), yang berjudul Artificial Intelligence and National Security: The Importance of the AI Ecosystem, berikut analisis tentang syarat penggunaan AI dalam sektor keamanan nasional:

Kepercayaan

· Pentingnya dan perlunya transparansi dalam AI.

· Kepercayaan harus diterapkan di seluruh algoritma, data, dan hasil.

· Pengguna AI harus memahami berbagai mekanisme dimana sistem dapat dipalsukan.

Keamanan

· Kemampuan digital yang mumpuni membutuhkan pengembangan, operasi, dan keamanan sistem AI yang seimbang.

· Budaya manajemen risiko jaringan dan kepemilikan cybersecurity di dalam organisasi sangatlah penting.

Pengguna

· Penerapan AI membutuhkan tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan dengan keahlian domain, pelatihan teknis, dan alat yang sesuai.

· Organisasi harus menumbuhkan budaya keunggulan data.

· Keberhasilan bagi pengguna dalam pembelajaran mesin (ML) membutuhkan iterasi, eksperimen, dan pembelajaran melalui kinerja yang optimal.

Kemampuan digital

· Suatu organisasi harus membangun kemampuan digital dasar agar berhasil menerapkan teknologi AI, misalnya manajemen basis data dan integrasi informasi, secara optimal.

· Mendapatkan keunggulan kompetitif melalui informasi dan analitik dari AI harus diupayakan dari markas besar ke warfighter yang sedang dikerahkan.

Selain itu, kita juga perlu memahami pentingnya AI dan apa saja implikasi AI dalam bidang pertahanan nasional:

Pentingnya Menggunakan AI di Dalam Sektor Pertahanan Nasional

Pertama-tama, sistem keamanan AI memungkinkan sistem pertahanan nasional untuk menemukan pola serangan siber dengan mudah, kemudian mengembangkan alat untuk melakukan serangan balik. Dalam bidang militer, integrasi kecerdasan buatan dengan transportasi militer dapat mengurangi biaya transportasi dan mengurangi upaya operasional manusia.

Selain itu, penggunaan AI dalam sistem pengenalan target juga mampu meningkatkan kemampuan tentara untuk menentukan lokasi target mereka, mengekstraksi data medis tentara dan membantu pengobatan dalam diagnosis yang kompleks, serta membantu personel pertahanan untuk memantau ancaman sehingga meningkatkan kesadaran situasional di lapangan.

Hari ini, kecerdasan buatan sudah digunakan dalam pertahanan nasional di berbagai negara besar, terutama oleh pihak militer dalam peran non-tempur. Salah satu contohnya adalah kecerdasan buatan yang digunakan oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari dua operasi dasar mereka, Desert Storm dan Desert Shield selama Perang Teluk pada tahun 1990.

Pertahanan Nasional yang Ditenagai oleh AI

Seperti yang kita ketahui, kecerdasan buatan dan robotika akan memainkan peran penting dalam pertahanan nasional di masa depan. Hari ini, robot yang dikendalikan oleh kecerdasan buatan dapat melakukan perjalanan melalui area berbahaya, melakukan operasi jarak jauh dan, yang paling penting, melakukan misi pengawasan yang berbahaya.

Selain itu, AI juga bisa melakukan interpretasi gambar untuk identifikasi dan klasifikasi, mendiagnosis dan memelihara sistem senjata canggih, seperti radar dan rudal, serta memberikan dukungan yang tepat untuk membidik dan mengangkut amunisi dan meningkatkan akurasi serangan.

AI yang diintegrasikan pada kamera dengan platform yang tahan guncangan juga dapat digunakan untuk membantu pemadaman kebakaran dari jarak jauh. Faktanya, mayoritas teknologi pertahanan di negara-negara modern adalah robot. Seiring berjalannya waktu, industri pertahanan nasional secara bertahap bergeser ke arah integrasi kecerdasan buatan dengan robot yang dibangun untuk aplikasi militer.

Setelah melihat implikasi dan kegunaannya, mari kita melirik negara-negara yang telah menggunakan AI dalam pertahanan nasional mereka.

Negara-negara yang Menerapkan AI dalam Sektor Pertahanan Mereka

img

Seperti yang terlihat pada tabel di atas, Amerika Serikat dan Tiongkok saat ini mendominasi dunia lewat sektor militer mereka, walau mereka menggunakan pendekatan yang sangat berbeda untuk sampai ke penggunaan AI. Negara-negara lain, termasuk Kanada dan Inggris, juga telah meningkatkan investasi ke dalam AI lewat perusahaan swasta dan publik.

Singkatnya, berikut beberapa proyek pertahanan berbasis AI terbesar dalam skala nasional:

1. Amerika Serikat dan Tiongkok

Tiongkok menginvestasikan setidaknya US$7 miliar hingga 2030, termasuk US$2 miliar untuk taman penelitian di Beijing. Pada saat yang sama, pemerintah Tiongkok sudah memperkirakan industri artificial intelligence senilai US$150 miliar di masa depan dan memiliki rencana nasional paling komprehensif untuk menjadi “pemimpin” di bidang ini.

img

Di sisi lain, Amerika tidak memiliki kebijakan untuk membuat intelijen buatan pusat, tetapi masing-masing proyek keamanan berbasis AI tetap dibiayai oleh departemen militer. Sementara sedikit yang dilakukan di tingkat nasional, industri intelijen buatan dan penelitian AI masih dipimpin oleh sektor akademik dan industri swasta di Amerika Serikat.

2. Israel

img

Israel sendiri telah menginvestasikan 4,5% dari PDB mereka untuk penelitian AI, hampir dua kali lipat dari rata-rata negara OECD. Sebagai perbandingan, 30% kegiatan penelitian dan pengembangan Israel dihabiskan untuk produk militer. Dalam hal ini, mereka menggunakannya di dalam C4I, korps dukungan tempur dari Angkatan Pertahanan Israel (IDF).

Di dalam C4I, ada cabangnya yang disebut Sigma, yang tujuannya adalah untuk mengembangkan penelitian dan mengimplementasikan kecerdasan buatan terbaru dan penelitian perangkat lunak canggih untuk menjaga IDF agar tetap “tajam” dan “baru.”

3. Rusia

img

Vladimir Putin telah membuat beberapa komentar tentang kecerdasan buatan, mengatakan bahwa siapa yang memimpin perlombaan dalam bidang AI akan memerintah dunia. Sementara itu, Rusia sendiri telah menghabiskan sekitar US$12,5 juta per tahun untuk AI, di mana banyak demonstrasi kecerdasan buatan Rusia yangbersifat militer, seperti pesawat tempur yang dibantu AI dan artileri otomatis.

4. India

img

India memang terus berupaya untuk mengikuti perlombaan bersenjata dunia, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan dan robot. Oleh karena itu, India bergabung dengan Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai salah satu negara yang rela menggelontorkan dana secara besar-besaran untuk militer mereka.

Sementara gugus tugas mereka akan meneliti berbagai inovasi dalam kecerdasan buatan secara global dan bagaimana hal itu dapat diterapkan, Pertahanan Sektor Publik India (DPSU) dan pabrik persenjataan di sana dilaporkan telah membuat berbagai produk yang terintegrasi oleh AI.

Hari ini, industri teknologi di India telah tiba pada titik di mana ia menghasilkan rekayasa perangkat lunak pada skala yang sulit untuk ditandingi, bahkan untuk negara-negara Dunia Pertama.

pengalaman

5 Tips Meningkatkan Pengalaman Pelanggan di Era Low Touch Economy